Mereka bilang saya menyesal. Benarkah? Benarkah semua rasa tak sama itu hadir akibat saya yang terlalu membanding-bandingkan mereka berdua? Benarkah semua tangis yang tercurah adalah perkara saya yang tak rela? Benarkah hati ini masih untuknya? Menunggu untuk diselamatkan setelah apa yang terjadi di ujung tahun 2011 lalu?
Mereka bilang saya tak rela. Tak rela melepaskan, tak rela menyadari bahwa kenyataan tak sesuai impian. Bahwa angan hanyalah semu belaka. Bahwa mimpi tak tergapai lagi.
Mereka bilang pergi. Saya harus pergi dari masa lalu itu. Saya harus berjalan, terus mengadu visi di masa depan.
Mereka bilang, kalau saya terus begini, saya akan kehilangan keduanya.
Tidak dapat dipungkiri, saya memang menyesal. Saya menyesal kenapa semua harus berakhir. Saya menyesal kenapa semua harus terjadi. Saya bahkan menyesal kenapa semua harus dimulai satu minggu sebelum keberangkatan saya ke Amerika.
Saya menyesal. Dan tidak ada hal lain yang lebih baik selain mengakuinya.




